Kuliah di Jerman, Apa yang Harus Disiapkan?

Artikel Terkait

Kuliah di Jerman memang impian sebagian lulusan SMA atau Universitas. Tak jarang, orang tua juga menginginkan putra-putri mereka untuk Kuliah di Jerman. Namun, persiapan apa yang harus disiapkan selain biaya, administrasi, dan tiket pesawat?

Persiapan-Kuliah-di-Jerman
Kuliah di Jerman menuntut lebih dari sekedar tekad dan niat, tapi juga ketabahan hati

Bagaimana caranya kuliah di Jerman? Beasiswa apa saja yang disediakan? Berapa biaya yang diperlukan

Rasa-rasanya, jawaban di atas mudah ditemukan di Google. Sudah banyak yang bahas soal topik di atas. Iya, kan?

Bahasan saya kali ini lebih pada sisi yang tak terjamah dan jarang diceritakan. Tapi, tetap akan saya berikan sedikit informasi saja.

Kuliah di Jerman Sudah Gratis

Sejak 2014, pemerintah Jerman menggratiska biaya kuliah baik bagi warga Jerman sendiri maupun warga asing yang bersekolah di universitas negeri seperti TU Muenchen, Humboldt University of Berlin, University Mannheim, dan banyak lainnya..

Nah, meskipun memang gratis, mahasiswa masih diwajibkan membayar uang kontribusi sebesar 150 Euro sampai 250 Euro per semester.

Di negara bagian saya Baden-Wuerttemberg, kuliah diwajibkan bayar sebesar 1.700 – 3.000 Euro per semester. Tapi di negara bagian lain, masih gratis.

Cara Kuliah di Jerman

Ada banyak cara untuk bisa kuliah di Jerman, seperti daftar mandiri, beasiswa, au-pair, kerja sosial, atau langsung enaknya, menikah saja dengan warga Jerman.

Nah, untuk siswa daftar mandiri, harus menyiapkan dana sekitar 8.000 Euro atau sekitar Rp 136.000.000 sebagai biaya jaminan selama satu tahun yang disetorkan ke Deutsche Bank.

Uang ini bisa diambil per bulan maksimal sebanyak 800 Euro. Lalu tahun berikutnya harus setor lagi sejumlah uang yang sama ke Deutsche Bank.

Sedangkan untuk beasiswa, DAAD adalah penyedia beasiswa resmi untuk kuliah di Jerman. Biasanya DAAD menerima calon mahasiswa Bachelor degree dan Master Degree.

Selain DAAD, ada juga Erasmus+. Sudah banyak infonya di Internet, silakan cari detailnya, ya?

Apa yang Harus Dipersiapkan?

Sesuai yang saya jelaskan di atas, saya ingin membahas resiko pergaulan dan tekanan mental yang jarang diceritakan orang-orang yang tinggal di Jerman.

Karena kuliahnya yang gratis, Jerman memang jadi pilihan banyak orang kaya Indonesia untuk menyekolahkan anak-anaknya.

Dibalik kerennya foto-foto di depan sungai yang bersih, bangunan gotik tua, dan pohon-pohon yang berwarna-warni, setidaknya ada 5 hal yang mengintai mahasiswi dan mahasiswa yang kuliah di Jerman.

#1 Negara Liberal

Di Jerman, remaja usia 14 tahun dilegalkan oleh negara untuk berhubungan badan dengan sesama remaja yang berusia di bawah 18. Gila?

Kalau saya bilang, iya.

Remaja usia 16 sudah diijinkan membeli bir, anggur, dan sampanye. Minuman ini dijual bebas di supermarket dengan harga murah. 

Jangan bilang di kolom komentar kalau mereka konsumsi alkohol untuk menghangatkan badan, bakal saya lemparkan Wedang Jahe dan Sekoteng untuk Anda.

Orang Barat mengonsumsi alkohol karena itulah kebiasaan mereka. Normal. Tidak ada yang aneh. Mereka tidak kenal konsep halal haram.

Bisa dibayangkan bagaimana gaya hidup seorang mahasiswa jika usia remaja sudah terekspos oleh hal-hal di atas?

Normal dilihat bahwa setelah Jumat malam hingga hari Senin, banyak muntahan yang bisa dilihat di tepi-tepi jalan karena orang asik berpesta.

Sudah biasa bagi pria-pria di sini untuk keluar masuk apartemen wanita muda, lalu keluar esok paginya.

Jangan syok kalau lihat pasangan muda-mudi melanggar batas sentuhan fisik di Tram selepas pukul 23:00. Tidak ada polisi yang akan menggiring mereka dengan tuduhan perbuatan asusila di tempat umum.

#2 Kesiapan Mental

Musim dingin di negara-negara Eropa menyebabkan matahari jarang terlihat. Kadang, satu minggu penuh sama sekali tidak dapat sinar matahari.

Cuaca sepanjang minggu sendu, kelabu, mendung, dan basah.

Waktu-waktu ini membuat mahasiswa rentan terkenal Seasonal-Affective Disorder atau gangguan depresi ringan yang disebabkan karena cuaca.

Bagi yang tidak menyadari gejalanya, bisa mudah stres, enggan beranjak dari tempat tidur, hingga hilang nafsu makan.

Umumnya, disarankan untuk mengonsumsi multivitamin agar mendorong depresi jauh-jauh.

Selain depresi, banyak juga godaan pergaulan. Bagi yang tak siap mental, pasti klepek-klepek.

Godaan bagi pria, kalian akan lihat bahwa cantik itu bisa saja yang berkulit putih, hitam, atau langsat.

Godaan bagi wanita, kalian akan terpana oleh lawan jenis bermata hijau, biru, bahkan yang hitam sekalipun.

Bersentuhan dengan lawan jenis bukan hal tabu. Kenal dan langsung main sosor bibir pun sudah biasa.

Menghabiskan malam bersama lalu bertindak seolah tak kenal di esok paginya, jangan langsung sakit hati. Kalian baru saja jadi tokoh utama kisah cinta semalam.

#3 Mudah Terbawa Arus

Saya menulis ini dari perspektif seorang muslim.

Di sini, wanita berhijab akan mendapati banyak sekali tantangan. Mulai dari makanan yang entah halal atau tidak, ejekan dan cemoohan orang-orang di jalan, hingga diskriminasi.

Kalau tidak tahan, pasti lepas hijab karena berpakaian seperti orang Jerman asli akan membuat seseorang lebih mudah berbaur.

Kalau sudah kelewat nyaman, tidak akan lagi pakai hijab. Bahkan mungkin lebih nyaman dengan pakaian yang lebih ‘Eropa’.

Pergaulan juga berperan penting.

Saat mengerjakan tugas, pasti ada dua tiga teman yang memesan bir atau alkohol di siang hari. Kalau tidak berprinsip, pasti akan ikut-ikutan.

Ini juga berlaku untuk perilaku seks bebas.

Biasa bagi seorang wanita yang belum menikah untuk ke dokter kandungan. Bisa untuk periksa, konsultasi, atau mendapatkan kontrasepsi. Tidak akan ada yang menanyai, ‘mana pasangannya’?

Sistem pacar di Jerman baru akan berlaku kalau seseorang sudah resmi tidur bersama pasangan lainnya. Kalau belum ada kontak fisik yang satu ini, belum bisa disebut pacar.

Meski mungkin ada pria yang bisa tahan, tapi realistis saja.

Faktanya, pria bule blangsak juga banyak.

Jangan kaget pula kalau sang pasangan zina ternyata punya pasangan zina lainnya. Konsep hanya punya satu pacar itu sudah basi.

Pria masa kini adalah pria yang seperti kunci, bisa membuka banyak gembok.

#4 Banyak Komunitas Muslim

Meskipun di negeri yang secara negara disebut Kristen tapi mayoritasnya atheis, Jerman punya banyak komunitas muslim.

Komunitas muslim terbesar di Jerman dibangun oleh komunitas Turki yang mewadahi semua muslim-muslimah di Jerman dari berbagai negara.

Selain itu, ada juga komunitas muslim Indonesia di hampir setiap kota di Jerman. Mereka rutin mengadakan pengajian dan berkumpul. Saat ini memang pembatasan sosial sedang berlaku dan lebih sering diadakan secara online.

Komunitas muslim ini membantu WNI muslim yang berjuang di negeri orang agar tetap mempertahankan akidah.

Kalau memang berniat untuk tetap berada di jalan yang lurus, seseorang bisa saja mencari komunitas muslim dan bergabung di dalamnya.

Tetap bersama dengan muslim-muslimah lainnya yang tak gentar memakai cadar dan khimar lebar.

#5 Semua Tergantung Orangnya

Ada yang bisa bertahan di tengah gempuran dari segala sisi, ada yang pegangannya belum erat dan lebih suka lepas agar bisa mengikuti arus.

Seseorang bisa saja kuliah di Jerman dan menyelesaikan S1 sampai S2 dengan mempertahankan hijab dan akidahnya. Berpegang teguh pada prinsip yang tak pernah berubah sejak 1.400 tahun lalu.

Itulah prinsip sebenarnya, yang tak pernah goyah meski lingkungan sudah berubah. Pohon yang mengakar begitu kuat hingga bisa dijadikan pegangan oleh seseorang meskipun banjir kuat sedang menerpa.

Apa bisa dikatakan prinsip kalau setiap dekade berubah, iya kan?

Memang, hal-hal yang saya jabarkan di atas bisa saja terjadi atau bahkan sudah terjadi di kota-kota besar di negara-negara mayoritas Muslim seperti Indonesia.

Di Jerman juga sama, tapi lebih jauh, lebih tak terkontrol, lebih mahal.

Banyak orang tua siap materi untuk menyekolahkan anak di negara yang pendidikannya lebih maju.

Tapi tak banyak orang tua yang siap kehilangan akidah anaknya ketika merantau di negeri orang.

Kalau ada putra-putri Bapak Ibu sekalian yang kuliah jauh di negeri Eropa atau negeri lainnya, cobalah cek semua media sosialnya.

Mulai dari media sosial mainstream seperti Facebook, Instagram, Twitter, hingga yang kurang populer di Indonesia seperti Reddit, Pinterest, Tumblr, Snapchat, Tinder, K**, atau bahkan O***F***.

Dua aplikasi terakhir sangat populer di Eropa dan luar biasa gila isinya.

Ada Resiko di Setiap Keputusan

Kalau anak Bapak atau Ibu perempuan, janganlah dikuliahkan jauh-jauh. Apalagi di tempat yang tidak ada mahramnya.

Setiap keputusan memang selalu memiliki potensi risiko dan manfaat. Kalau sekiranya risiko lebih besar daripada manfaatnya, urungkan niat kuliah di Jerman.

Kalau perempuan sudah ada mahramnya, silakan.

Banyak teman-teman saya dari Syria, Algeria, Bosnia, dan Negara Muslim lainnya yang datang bersama mahram mereka. Biasanya kakak laki-laki.

Ada baiknya sebelum Bapak dan Ibu kirim putra-putrinya kesini, coba rasakan untuk tinggal sebagai muslim di Jerman. Lihat sendiri bagaimana kondisinya dan pastikan putra-putrinya bisa tetap sehat mental selama kuliah.

Selain tekanan dari universitas, ada banyak tekanan sosial, keuangan, dan lingkungan.

Sifat alamiah manusia selalu ingin merasa diterima dan cocok dengan lingkungan. Kalau lingkungan di Jerman tidak mendukung, sebaiknya urungkan saja.

Untuk kawan-kawan yang berhasil lulus dari Universitas Jerman atau Universitas lain di Eropa dan masih memegang teguh akidah dan iman, semoga kita dipertemukan di tempat yang lebih baik di Jannah-Nya.

More on this topic

Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Populer

Siapkan 5 Hal Ini Sebelum Menikahi Muslimah Bule

Wanita Eropa memang memiliki peson tersendiri. Tak jarang, banyak yang ingin punya pasangan Bule. Berbagai alasan menjadi dasar pilihan menikahi wanita asing,...

Buku Nikah, Benda Tidak Penting di Jerman

Menikah di Jerman merupakan impian bagi beberapa orang. Tapi ternyata, ada hal mengejutkan yang umum dilakukan oleh pasangan di Jerman. Kebanyakan mereka...

Trending Eropa, Obat Corona dari Bahan Herbal?

Echinacea Purpurea disinyalir menjadi angin segar pada penelitian obat yang dilakukan di Inggris. Dalam jurnal kesehatan, mereka menyatakan bahwa multivitamin dan obat...