7 Kebiasaan Orang Jerman yang Sulit Dipahami

Artikel Terkait

Setelah pindah ke Jerman, saya benar-benar tidak paham kenapa orang Jerman begitu… Jerman. Tapi tiga tahun kemudian, ternyata saya mengadopsi sendiri kebiasaan orang Jerman yang dulunya saya anggap aneh.

Kebiasaan-Orang-Jerman
Orang Jerman memiliki kebiasaan-kebiasaan unik jika dilihat dari kacamata orang Indonesia

Di manapun Anda berada, selalu ada kebiasaan-kebiasaan lokal yang mungkin Anda anggap aneh, unik, atau absurd. Saat ini, mungkin Anda tidak sadar kalau di lingkungan tempat Anda pun sebenarnya memiliki kebiasaan yang aneh jika dilihat dari sudut pandang orang asing.

Sebagai orang asing di Jerman, saya pun menangkap hal-hal khas Jerman yang dilakukan warga asli di sini. Perlu waktu sebelum saya menerima dan mengadopsi kebiasaan tersebut.

Tapi setidaknya, saya sudah berhasil survive tinggal di Jerman dengan segala kebiasaan-kebiasaan yang unik dan aneh bagi orang Indonesia.

#1. Harus ada hitam atas putih

Untuk ukuran negara maju dengan teknologi daur ulang modern, Jerman masih mempertahankan kebiasaan jadul dengan menggunakan kertas.

Kalau sudah berkaitan dengan bisnis, pemerintahan, dan hampir semuanya, orang Jerman masih menggunakan kertas.

Bukannya orang Jerman tidak tahu tentang teknologi bernama PDF, tapi segala hal yang berkaitan dengan kontrak harus tertulis.

Inilah yang menyebabkan penelitian pada tahun 2018 memunculkan fakta bahwa rata-rata orang Jerman menggunakan 241,7 kilo kertas dalam setahun.

Jadi, kalau Anda ingin membeli sepeda, membeli SIM-card, menyewa apartemen di Jerman, berlangganan atau berhenti berlangganan tiket kereta, harus ada dokumen yang menyebutkan demikian.

Kalau tidak ada, transaksi dianggap tidak sah.

Menariknya, kalau di Indonesia selalu memerlukan materai untuk tandatangan, di Jerman tidak demikian.

Memberikan tandatangan di suatu dokumen, sudah dianggap cukup untuk membuat dokumen tersebut sah di mata hukum.

Benarkah tidak ada yang pakai PDF?

Untuk dokumen kenegaraan, transaksi, dan lain sebagainya, semua harus dicetak, lalu ditandatangani. Kalaupun di-scan kemudian dikirim via e-mail, orang yang menerima harus ngeprint lagi.

Ribet? Menurut saya sih, iya.

#2. Hari Minggu Tutup!

Kalau di Indonesia, hari Minggu adalah hari saya jalan-jalan dan refreshing ke kota untuk belanja. Supermarket, toko elektronik, toko pakaian, umumnya saya kunjungi di hari Minggu.

Tapi di sini, saya harus membiasakan diri dengan kebiasaan orang Jerman.

Hari Minggu di Jerman adalah Ruhetag atau hari tenang. Karena orang Jerman akan kembali bekerja di hari Senin, maka hari Minggu digunakan untuk bersantai di rumah bersama keluarga.

Istilahnya, mengisi kembali energi yang akan dihabiskan di hari-hari kerja dengan bersantai di hari Minggu.

Supermarket, kantor pos, toko buku, kantor, dan berbagai kegiatan bisnis lainnya ditiadakan. Tapi, di kota-kota besar, kadang tetap ada cafe, restoran, atau toko roti yang buka.

Jadwal tram dan bus di hari Minggu dikurangi. Misalnya jika pada hari kerja tram dan bus akan datang setiap 10 menit, maka di hari Minggu menjadi tiap 30 menit, 40 menit, atau bahkan tiap satu jam.

#3. Hari ini cerah? Saatnya keluar!

Ketika matahari bersinar cerah, orang Jerman akan berhenti melakukan apapun dan hanya duduk di tepi jalan, tepi sungai, atau taman. Tujuannya, untuk Sonnentanken atau menghimpun matahari.

Orang Jerman menyukai cuaca cerah. Biasanya mereka hanya duduk, membaca, atau mengobrol di bawah sinar matahari. Ini bisa berlangsung sepanjang hari selama matahari masih ada dan jika mereka tidak punya kegiatan lain yang harus dilakukan.

Berasal dari Indonesia yang memiliki intensitas matahari tinggi, saya terbiasa untuk menghindari sinar matahari yang membuat kulit hitam.

Tapi di Jerman, setiap kali matahari bersinar cerah, saya akan langsung keluar meskipun hanya sekadar jalan-jalan.

Ini karena intensitas matahari di Eropa yang rendah. Pada musim dingin misalnya, bahagia sekali rasanya kalau bisa mendapat hari-hari cerah dan matahari bersinar sepanjang hari.

Kurangnya asupan vitamin D dan sinar matahari membuat penduduk Jerman rentan terhadap depresi. Oleh sebab itulah banyak penduduk yang memanfaatkan sinar matahari semaksimal mungkin untuk kesehatan mental dan fisik.

#4. Saving, not spending

Kebiasaan orang Jerman yang paling bikin saya bingung adalah kebiasaan mengumpulkan harta.

Tidak banyak orang Jerman yang kaya, tapi tidak banyak pula yang miskin. Rata-rata orang Jerman ada di level ekonomi menengah dan kebanyakan memiliki simpanan harta yang bertumpuk.

Orang Jerman tulen jarang sekali membelanjakan uang untuk membeli barang-barang terbaru seperti mobil, atau perangkat elektronik.

Kebanyakan mereka menyimpan uang dalam bentuk cash di bank, lalu membiarkan uang-uang tersebut terus bertumpuk. Jarang sekali orang Jerman yang menyimpan aset mereka dalam bentuk emas, deposito, atau saham.

Mereka beranggapan bahwa uang tunai lebih liquid.

Kalau mereka perlu mobil, mereka akan membeli mobil yang standar. Tidak mahal-mahal amat tapi memiliki standar keamanan yang diakui oleh TÜV.

Soal pakaian, jarang sekali ada yang mengenakan pakaian bermerk atau bahkan baru. Kebanyakan orang Jerman membeli pakaian bekas pakai atau mendaur ulang pakaian mereka.

Kalau dikatakan pelit, sebetulnya tidak.

Lebih pada kenyataan bahwa orang Jerman selalu khawatir dengan masa depan mereka. Memiliki banyak uang membuat mereka beranggapan bahwa mereka akan jadi ‘lebih aman’ di masa depan.

Kebiasaan ini sudah mengakar hingga tiga abad dan mungkin tercatat dalam DNA orang Jerman. Kalau ditanya kenapa mereka lebih suka menabung, jawabannya selalu untuk masa depan.

Deutsche Art bewahrt, Wer arbeitet und spart!

Mereka yang bekerja dan menabung, menjaga tradisi orang Jerman!

#5. Orang Jerman suka berencana

Awal-awal saya tinggal bersama suami di Jerman, suami sering bertanya “Was hast du morgen vor?‘ yang artinya “besok kamu ngapain?”

Berasal dari Indonesia dengan segala kebiasaan spontan dan kurang terencana, awalnya saya hanya menjawab sekenanya. Yaitu dengan menyebutkan satu kata seperti “kerja” atau “masak.”

Tapi ternyata, yang dimaksud oleh orang Jerman adalah rencana esok hari dalam hitungan jam.

Ketika orang Jerman tanya apa yang Anda lakukan besok, Anda sebaiknya minimal menjawab seperti ini;

“Pagi hari, saya harus ke kantor pos untuk mengirim barang. Lalu siangnya, saya harus ke Heidelberg karena urusan pekerjaan. Sore hari baru saya kembali lagi ke sini. Tapi malam hari mulai jam 19:00 saya ada waktu luang.”

Kurang lebih seperti itulah Anda harus menjawab. Kalau teman Jerman Anda yang bertanya, biasanya mereka tanya kapan Anda punya waktu luang. Kalau Anda tidak menjelaskan apa-apa saja yang harus Anda kerjakan hari itu, Anda dianggap kasar.

Ketika mendapat pertanyaan seperti ini dari suami, saya biasanya hanya mengarang bebas dan tidak benar-benar stick to the plan. Tapi setelah tiga tahun di sini, saya mulai membuat rencana harian dan mingguan yang terasa seperti jadwal sekolah.

#6. Plastik, kertas, karton, gelas

Kebiasaan orang Jerman ini patut ditiru oleh seluruh umat manusia. Orang Jerman memisahkan sampah mereka berdasarkan kategori. Plastik botol akan dimasukkan ke tempat sampah khusus plastik botol yang biasanya ada di supermarket.

Kertas dan karton bisa jadi pisah atau campur, tergantung kebijakan daerah masing-masing.

Sedangkan gelas harus dipisah berdasarkan materialnya. Gelas yang terbuat dari kaca hijau harus dipisah dari gelas yang terbuat dari kaca cokelat. Begitu pula gelas bening dan keramik.

Masing-masing memiliki tempat pembuangan tersendiri.

Membuang baterai tidak boleh sembarangan. Supermarket biasanya menyediakan tempat untuk membuang baterai. 

Sedangkan obat-obatan, jika sudah tidak terpakai atau kadaluarsa, harus dikembalikan ke apotek agar mereka bisa membuang obat-obatan dengan cara yang benar.

#7. Budaya daur ulang dan kasih barang

Jerman menjunjung tinggi budaya daur ulang. Pakaian yang masih layak pakai pun biasanya dibuang ke tempat khusus berdasarkan kategori. Misalnya atasan, bawahan, dan sepatu.

Untuk membuang perabotan seperti kasur, lemari, atau elektronik rusak, harus membuat janji dengan Abfallwirtschaftbetrieb atau Layanan Pembuangan dan Konstruksi tiap kota.

Anda harus memberikan alamat Anda. Setelah mendapat jadwal tanggal dan waktu, Anda bisa mulai membuang peralatan tersebut (biasanya disebut Sperrmüll) di pinggir jalan depan rumah, lalu petugas akan mengambil sampah tersebut.

Layanan ini hanya gratis 2 kali dalam setahun untuk perabotan dengan ukuran masing-masing 2×4 meter kubik. Kalau ingin langsung sekaligus, maka ukuran Sperrmüll maksimal 1×8 meter kubik.

Kalau lebih, akan dikenai biaya 17,00 Euro atau setara Rp 300.000 untuk setiap satu meter kubik.

Inilah sebabnya kebanyakan orang Jerman lebih suka memberikan barang gratisan pada orang lain. Daripada membayar biaya sebesar itu untuk membuang perabotan, orang Jerman akan merasa bersyukur kalau ada orang lain yang mau mengadopsi perabotan mereka.

Perabotan seperti lemari, mesin kopi, papan setrika, rumah kucing, dan kursi adalah sebagian dari barang-barang yang pernah saya peroleh gratis.

Saking ogahnya keluar uang, dapur seharga Rp 50.000.000 pun tak jarang dijual dengan harga Rp 10.000.000 saja. Karena kalau mereka membuang dapur tersebut, mereka harus keluar uang.

Kebiasaan Orang Jerman Paling Menarik

Sebagai penutup, saya beri satu kebiasaan orang Jerman yang menurut saya paling menarik dan membahagiakan.

Yaitu kebiasaan untuk membawa sesuatu ketika berkunjung atau diundang.

Misalnya Anda diundang oleh teman Jerman untuk main ke rumah, maka Anda sebaiknya bawa sesuatu. Contohnya cokelat, bunga, kue, makanan khas Jerman, jus botolan, apa saja.

Lalu ketika Anda bertemu mereka, Anda bisa berpelukan atau cipika-cipiki tiga kali. Yaitu pertama pipi kiri, lalu pipi kanan, dan kembali lagi pipi kiri.

Sebelum masa pandemi tentunya, saya menyukai kebiasaan ini. Bahkan WNI yang tinggal di Jerman pun terbawa oleh kebiasaan cipika-cipiki ini.

Kalau saya ya hanya berpelukan dan bersalaman dengan sesama wanita saja. Ngeri dong ah kalo begitu sama lawan jenis. Iya kan?

More on this topic

Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Populer

Pendapat Orang Jerman Tentang Indonesia

Seperti apa pendapat orang asing khususnya orang Jerman tentang Indonesia? Meskipun tidak terlalu dikenal di luar negeri, nama Indonesia ternyata familiar di...

6 Hal di Jerman yang Nggak Ada di Indonesia

Berbeda negara, tentu saja berbeda budaya. Tapi, sejauh apa perbedaannya? Apa saja perbedaan yang mencolok antara Jerman dan Indonesia? Berikut ini adalah...

5 Karakter Khas Orang Jerman

Tinggal di Jerman, dikelilingi orang Jerman, tentu membuat saya jadi paham karakter khas orang Jerman. Anggapan bahwa orang Jerman berkarakter dingin, keras,...