Hidup di Jerman: Standar Miskin & Kaya

Artikel Terkait

Hidup di Jerman tidak jauh beda kalau sudah menyangkut kebutuhan. Tapi kalau bicara soal standar, banyak perbedaan antara standar hidup di Jerman dan Indonesia, terutama menyangkut level kesejahteraan masyarakatnya.

Hidup di Jerman dengan Standar Kaya
Hidup di Jerman tak harus jadi kaya

“Jerman ‘kan negara kaya. Memangnya masih ada orang miskin di sana?”

Tentu saja ada. Layaknya di negara manapun, pasti ada golongan kaya dan golongan miskin. Menariknya, standar kaya dan miskin di Jerman berbeda jauh dengan Indonesia.

Di Tanah Air, satu keluarga dianggap kaya jika memiliki rumah sendiri dengan garasi dan mobil. Dua hal ini mudah dicapai dengan gaji antara Rp 7.000.000 sampai Rp 15.000.000.

Malahan sejak terakhir kali saya pulang ke Indonesia tahun 2020 ini, saya mendapati banyak keluarga kecil dengan gaji Rp 5.000.000 yang sudah mencicil mobil atau KPR.

Sedangkan di Jerman, rumah dan mobil bukanlah ukuran kekayaan seseorang. 

Sebelum bicara soal kekayaan, coba kita lihat, berapa biaya hidup di Jerman.

Biaya Hidup di Jerman

Secara umum, tidak ada perbedaan signifikan antara biaya hidup di Jerman dan di Indonesia. 

Untuk transportasi sekali jalan, biayanya sekitar 2,70€ atau sekitar Rp 45.000. Kurang lebih sama kalau Anda pakai taksi sejauh 13 kilometer.

Soal biaya bahan makanan atau sembako, Jerman termasuk murah. Bahkan beberapa lebih murah daripada Indonesia.

Untuk harga 1 kilogram ayam, harganya sekitar 2€ atau setara Rp 34.000. Kurang lebih sama ‘kan dengan harga ayam di Indonesia?

Buah-buahan, sayur, telur, minyak goreng, gula, harga bumbu dan berbagai keperluan dapur semuanya murah. Jika dibandingkan dengan harga di Indonesia, perbedaannya tidak banyak.

Perbedaan biaya hidup di Jerman yang paling mencolok mungkin soal asuransi dan sewa rumah.

Sewa apartemen di area pemukiman yang agak jauh dari kota berkisar di harga 700€ atau sekitar Rp 11.900.000 per bulan. Harga tersebut termasuk listrik dan air untuk ukuran tinggal sekitar 45 – 60 meter persegi.

Di Jerman yang menganut sistem sosialis, orang miskin akan disubsidi oleh negara sedangkan orang kaya tidak akan dibantu.

Kalau di Indonesia, UUD 1945 pasal 34 ayat 1 berkata bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.

Tapi kenyataannya, banyak keluarga fakir dan miskin yang hanya bisa mengharap bantuan tetangga karena pemerintah sudah habis peduli.

Oleh karena itu, mau berapapun gaji yang diterima di Indonesia, kita umumnya masih bisa untuk bertahan hidup.

Entah bagaimana caranya, pokoknya dapur ngebul.

Di Jerman, kalau Anda termasuk dalam golongan miskin, Anda akan mendapat banyak bantuan dan subsidi. Tentu, ada orang yang memanfaatkan sistem ini dengan mencari celah-celah hukum.

Tapi, warga asli Jerman umumnya enggan berlama-lama menerima bantuan sosial dari pemerintah.

Nah, bagaimana standar kaya dan miskin di Jerman?

Standar Miskin Jerman & Indonesia

Kalau melihat Indonesia, saya akan melihat Yogyakarta karena di sanalah saya besar dan tinggal selama 23 tahun. Daerah Istimewa Yogyakarta menetapkan UMR Yogyakarta pada tahun 2020 sebesar Rp 2.000.000.

Ingat, ini adalah upah di Kota Yogyakarta. Upah regional di wilayah Kabupaten bisa saja lebih rendah 200 sampai 300 ribu.

Kalau masih berpenghasilan UMR, Anda masih dianggap miskin di Indonesia. Tapi semiskin-miskinnya Anda dan saya dalam menerima gaji, kita tidak akan meminta bantuan ke pemerintah selain dari program-program yang biasanya memang hadir menjelang Pemilu saja.

Di Jerman, Anda dianggap miskin jika penghasilan bruto atau kotor Anda berada di bawah 1.000€ per bulan. Kalau dirupiahkan jadi sebesar Rp 17.000.000.

Gaji sebesar 1.000€ itu masih dipotong pajak sekitar 30%, dan Anda akan menerima sekitar 700€ per bulan bersih atau netto.

Kalau Anda hidup sendiri, tentu penghasilan 700€ per bulan sudah cukup untuk hidup di Jerman. Kalau berkeluarga, Anda dianggap miskin jika penghasilan suami istri dan 2 anak ada di bawah 1.500€.

Katakanlah dengan penghasilan 1.600€ per bulan, Anda membayar pajak terendah yaitu 35%, maka uang yang masuk ke kantong Anda sebesar 1.040€ per bulan.

Sebagai informasi, anak-anak mendapat subsidi sebesar 180€ setiap bulannya. Jadi, pendapatan Anda akan jadi seperti ini

Gaji bersih: 1.040€

Subsidi Anak: 180€ dikali 2 orang anak

Total: 1.400€

Dengan pendapatan setara Rp 17.680.000, Anda masih masuk kategori miskin di Jerman.

Hidup Standar Normal di Jerman

Kebanyakan warga Jerman hidup di garis normal sejahtera. Dengan fasilitas yang didukung oleh pemerintah, rakyat Jerman bisa hidup sejahtera tanpa harus menjadi kaya.

Sekolah di Jerman sudah gratis dan Universitas di sebagian besar negara bagian juga sudah gratis. Fasilitas publik dan pelayanan kesehatan juga mendukung warganya agar bisa bahagia.

Nah, Anda dianggap kaum normal sejahtera jika penghasilan kotor atau bruto Anda tidak melebihi 4.950€ per bulan. Eits, ini belum termasuk subsidi anak tadi ya. 

Jika gaji kotor Anda berada di kisaran Rp 84.150.000 per bulan, Anda termasuk golongan normal sejahtera. Bagi saya dan suami, garis ini adalah garis yang tidak akan kami lewati.

Karena dengan menjadi kaya di Jerman, kami harus bayar asuransi kesehatan privat yang mahalnya luar bisa. Plus, kami harus bayar pajak lebih tinggi.

Mertua saya membayar pajak banyak sekali. Uang yang harus dikeluarkan untuk asuransi kesehatan pun juga besar karena beliau dianggap kaya oleh pemerintah Jerman.

Rasanya, beliau hanya bekerja untuk membayar pajak.

Golongan Kaya

Dengan penghasilan di atas 4.950€ tadi atau setara Rp 84.150.000 tadi, Anda dianggap kaya oleh pemerintah Jerman.

Ketika gaji Anda mencapai angka ini, Anda harus bayar asuransi kesehatan privat. Tidak lagi bisa ngikut asuransi negara yang bersubsidi. 

Nah, biaya asuransi privat ini bisa mencapai 700€ atau setara Rp 11.900.000. Keuntungannya, Anda bisa bertemu dokter lebih cepat dengan membuat janji sebelumnya.

Sebagai informasi, kalau keperluan kesehatan Anda tidak darurat atau emergensi, Anda bisa menunggu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan untuk mendapat layanan kesehatan.

Sedangkan dengan asuransi swasta yang harganya mencapai 11 juta tadi, Anda bisa membuat janji lebih cepat dengan dokter spesialis.

Soal pajak dan asuransi kesehatan memang jadi beban terbesar ketika Anda naik gaji. Ketika suami saya naik gaji, saya sedikit terkejut karena uang asuransi kesehatan yang harus kami bayar naik 100%.

Pada akhirnya, gaji bersih suami saya hanya bertambah 200€. Tapi ya sudahlah, alhamdulillah masih punya pekerjaan dan penghasilan.

Orang Jerman yang Kaya Itu Jarang

Kalau dari kacamata orang Indonesia, pasti terlihat kalau orang Jerman itu kaya-kaya karena rentang gajinya yang gurih kalau dirupiahkan.

Di Indonesia pula, banyak orang ingin jadi kaya dengan uang melimpah. Oleh karena itu di Indonesia, Anda bisa berprofesi sebagai PNS dan masih menjalankan pekerjaan sampingan.

Itulah konsep negara kapitalis yang membebaskan Anda mencari uang.

Di Jerman, Anda tidak bisa mencari pekerjaan sampingan dengan bebas. Misalnya, Anda bekerja sebagai karyawan swasta full-time di suatu perusahaan di Jerman, Anda harus minta ijin ke atasan jika ingin menjalankan bisnis di luar pekerjaan Anda.

Meskipun bisnis sampingan tersebut tidak berkaitan dengan pekerjaan utama Anda sebagai karyawan, tapi bos Anda berhak mengatakan tidak.

Kalau bos Anda bilang tidak, ya sudah. Anda tidak bisa menjalankan bisnis sampingan apapun selama bekerja pada perusahaan mereka.

Anda juga tidak bisa buka bisnis sembarangan atau jualan produk seperti di Indonesia. Ada prosedur dan hukum yang harus dilalui.

Saya dan suami menargetkan untuk memiliki penghasilan normal sejahtera sampai batas atas saja. Kenapa?

Perhitungannya begini. Ketika Anda mendapat 6.000€ bruto per bulan di Jerman, Anda bisa membayar pajak hingga 40%. Ini artinya, Anda menerima gaji bersih sebesar 3.600€

Uang 3.600€ itu masih harus Anda setorkan ke perusahaan asuransi kesehatan sebesar 500€

Pada akhirnya, uang yang masuk ke kantong Anda hanya sebesar 3.100€.

Pahit, ‘kan?

Dengan penghasilan kotor 3.800€, katakanlah Anda bayar pajak 30%.. Gaji bersih yang Anda terima sebesar 2.660€. Lalu, Anda setorkan ke asuransi kesehatan sebesar 350€.

Uang yang masuk ke kantong Anda sekitar 2.310€.

Jarang sekali orang di Jerman yang kaya. Kebanyakan mereka adalah normal sejahtera. Begitupun saya dan suami.

Jika Anda bekerja di perusahaan Jerman sebagai ekspatriat, Anda akan menerima gaji normal sejahtera atau sekitar 3.200€ bruto. Sedangkan kalau Anda mendapat beasiswa DAAD, Anda berhak atas uang sebesar 1.400€ per bulan.

Hidup di Jerman dan Bekerja

Sebagai ekspatriat, Anda akan hidup nyaman di Jerman dengan visa kerja karena Anda akan otomatis mendapat gaji di angka 3.250€. Tidak akan mungkin di bawah itu berdasarkan Undang-undang Tenaga Kerja di Jerman.

Memang, banyak pekerja asing yang gajinya di bawah angka tersebut. Tapi ini disebabkan karena status tinggal pekerja tersebut. Banyak yang datang kemari dengan visa jaminan pasangan atau saudara.

Kalau yang seperti ini, tentu saja gajinya jauh sekali di bawah ekspatriat.

Banyak pula mahasiswa yang bekerja sambilan di Jerman semasa kuliah, lalu lulus dan berusaha beralih ke visa kerja. Ada yang berhasil, namun tak sedikit pula yang harus pulang ke Indonesia karena tak kunjung mendapat kerja.

Pada akhirnya, Anda dituntut berusaha lebih jika ingin hasil yang lebih. Hidup normal sejahtera di Jerman sudah cukup nyaman karena sebagian besar masyarakat tinggal di level ini.

Tak perlu menjadi kaya di Jerman. Asalkan Anda bisa membayar sewa apartemen bulanan, biaya makan terpenuhi, dan kesehatan yang terjamin, Anda sudah bisa hidup tenang.

More on this topic

Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Populer

Kuliah di Jerman, Apa yang Harus Disiapkan?

Kuliah di Jerman memang impian sebagian lulusan SMA atau Universitas. Tak jarang, orang tua juga menginginkan putra-putri mereka untuk Kuliah di Jerman....

Biaya Hidup di Jerman

Biaya hidup di Jerman berkisar antara 500 Euro sampai 1.000 Euro atau setara dengan Rp 7.500.000 sampai Rp 15.000.000 per orang. Kalau...

Rasanya Tinggal di Jerman untuk Emak-emak

Seperti apa rasanya tinggal di Jerman sebagai ibu rumah tangga yang hobi ngeblog seperti saya? Meskipun saya belum memiliki anak sehingga tidak...