Serunya Bercadar di Jerman

Artikel Terkait

Mengenakan cadar di Jerman memang memiliki resiko. Beberapa berkisah, tidak ada bedanya bercadar di Eropa atau di Indonesia, sama-sama jadi korban bully dan julid masyarakat sekitar.

Hijab dan Cadar di Jerman
Hijab dan Cadar di Jerman

“Muka jelek, mah, emang pantes ditutupin!”

Yap, itu salah satu makian yang masih saya ingat sampai sekarang. Diucapkan waktu saya baru dua bulan di Jerman oleh ibu-ibu dengan baju merah yang bawa belanjaan di kanan kiri, di depan toko Asia.

Wah, inget banget, Mbaknya?

Iya dong. Saya sempat bikin cerpen soal itu yang menang di kompetisi forum dan uang hadiahnya bisa buat jajan ekstra. #kibas-ujung-jilbab

Bulan ini, genap dua tahun saya tinggal di Jerman dan mengenakan cadar. Eits, tapi saya belum bercadar penuh. Masih buka tutup.

Masa transisi ini saya manfaatkan untuk melakukan eksperimen sosial kecil-kecilan. Alhamdulillah Allah berkahi saya bermacam gamis syar’I dengan berbagai model. Pakaian tersebut adalah modal saya melakukan eksperimen ini bersama suami.

O iya, suami saya Boolay (baca: Bule) tapi suka banget sarungan. Iya, sarung motif kotak-kotak yang mereknya Sitting Elefante. Dan mas Suami juga termasuk yang nyaman pakai sarung, baju koko, dan peci. Pokoknya mas Bule satu ini sudah Indonesia banget (One of us! One of us!).

So, saya penasaran, apa sih yang bikin orang Jerman (atau orang asing pada umumnya) takut dengan cadar?

Bercadar di Jerman

Cadar Mesir

Awal kedatangan di Jerman, saya tidak pakai cadar karena harus melewati sekuriti bandara. Saya hanya pakai gamis warna cerah dan khimar warna gelap.

Hingga saat ini, kalau saya berpakaian gamis plus khimar, nggak ada kata-kata kasar dan lirikan khawatir yang seolah menyiratkan “please don’t bomb my country”. Yah, karena orang Turki yang sudah ada di Jerman sejak tahun 1900-an memang selalu pakai gamis dan khimar. Jadi pakaian ini memang sudah umum.

Setelah menetap di Jerman, saya pakai cadar mesir warna merah gelap dan biru gelap. Kalau nggak tahu bentuknya, coba Google dengan kata kunci tersebut. Saya sering keluar dengan cadar model ini dan hanya dapat sedikit assault.

Saya ingat, cuma dapat dua kali makian dan satu kali bapak-bapak tua yang hampir (cuma hampir!) menarik cadar saya dari depan. Karena saat itu saya bersama mas Suami, hanya menghasilkan makian dari si bapak tua dan suami saya yang emosi. Situasi akhirnya aman terkendali karena si bapak tua lanjut gowes dengan sepeda sewaannya.

Cadar Tali

Cadar Tali yang Saya Kenakan

Berikutnya, saya pakai cadar tali warna pastel yang dipadukan dengan gamis dan khimar senada. Kalau saya berpakaian begini, nggak banyak masalah. Malahan banyak mata memandang takjub, dan sempat disenyumin dan dipuji sama nenek-nenek tua, kalau pakaian saya cantik. Beliau bilang, suka melihat cara saya berpakaian dengan hijab dan cadar. Wah, terima kasih loh, Nek. Saya juga suka pakaian begini. Ada juga adik kecil usia tiga tahunan tanya, kenapa pakai cadar. Lalu teman-teman suami saya dan keluarga mereka yang bertanya kenapa pakai cadar.

Teman-teman kami yang bule-non-muslim umumnya menerima dan nggak mempermasalahkan. Beberapa dari mereka memang penasaran dan ingin tahu lebih lanjut. Jadilah kami berdiskusi soal agama secara sehat dan tetap bisa berteman baik.

Tapi, yah… Karena saya cukup sering berpakaian begini, pada akhirnya saya ketemu juga dengan orang yang melirik sinis.

Mengenakan French Khimar di Jerman

French Khimar

Satu tahun setelah di Jerman, saya beli French Khimar warna hitam. Itu tuh, khimar panjang nan lebar yang cadarnya bisa dinaikturunkan. French Khimar yang saya beli panjangnya sampai lutut dan berwarna hitam. Saya suka model ini karena simpel dan menutup aurat keseluruhan.

Nah, apa yang terjadi?

Sambutannya meriah sekali!

Saya sering keluar dengan French Khimar terutama waktu musim panas, dan musim gugur tahun ini. Berbagai macam umpatan dan makian sering saya dapatkan. Bahkan mas Suami sampai khawatir kalau saya keluar dengan French Khimar ini.

Apa yang salah?

French Khimar sudah umum digunakan oleh Muslimah terutama yang berasal dari Bosnia dan Albania. Mereka mengenakan French Khimar untuk aktivitas sehari-hari dan ya, mereka sering sekali dapat pengalaman buruk.

Teman saya seorang ibu yang berasal dari Albania. Dulu, beliau bercadar dan pakaiannya memang selalu serba hitam atau gelap kalau keluar rumah. Tapi karena putranya yang berusia tujuh tahun dijauhi oleh teman-temannya dan beliau merasa dikucilkan di lingkungan orangtua murid, beliau melepas cadar, meskipun masih mengenakan abaya hitam dan khimar lebar kalau keluar rumah.

Beliau bilang, cara berpakaian beliau yang tanpa cadar bisa sedikit lebih diterima di lingkungan sekolah putranya.

Ah, sedih saya waktu mendengar cerita beliau.

Jilbab bagi WNI Indonesia di Jerman

Saya mengenal teman-teman mahasiswi Indonesia yang beragama baik. Tapi karena warga Indonesia memiliki cara berpakaian muslim yang khas, kami yang berada di Jerman jarang sekali mendapat diskriminasi.

Mahasiswi Indonesia yang saya kenal di sini belum ada yang bercadar. Mereka mengenakan gamis dan jilbab segiempat lebar. Khas mahasiswi sekali.

Kami WNI Muslimah bisa saling mengenali dari cara berpakaian.

Dari kisah yang mereka ceritakan, tidak ada halangan berarti bagi mereka, dan saya paham.

Selama saya tinggal di sini, pengalaman buruk saya hanya karena cadar. Kalau sudah bercadar, apapun yang saya lakukan pasti dilihat. Bahkan tas ransel besar yang saya bawa pun bakal jadi perhatian. Lirikan mereka seolah mengatakan “I hope that’s not a bomb in your backpack.”

Apakah saya nyaman bercadar?

French Khimar di Jerman
Muslimah di antara Non-Muslim Eropa

Hmm, jawabannya situasional sekali. Tujuan cadar dan pakaian gelap adalah supaya kami wanita tidak menarik perhatian. Tapi di Jerman, dengan segala pemberitaan mengenai ISIS, terorisme (yang jelas-jelas diarahkan untuk mematikan Islam), pakaian sunnah malah menarik perhatian. Diteriaki “pulang sana” dan segudang makian dalam bahasa Jerman sudah jadi bonus harian bagi kami yang berpakaian mengikuti Sunnah.

Saya nyaman bercadar ketika pergi ke Masjid, mengikuti halaqa, acara walimah, atau berkumpul di antara Muslim-Muslimah. Selain aktivitas tersebut, saya nyaman-nyamankan saja. Masa bodoh dengan kata manusia, yang penting saya ikuti kata Allah.

Bagaimana diskriminasi terhadap wanita bercadar?

Jawaban saya akan personal sekali. Pengalaman saya membuktikan bahwa tidak ada diskriminasi sama sekali di lingkungan pemerintahan seperti layanan kependudukan, perbankan, imigrasi, dan sebagainya.

Ketika saya mendaftar kependudukan di Jerman, saya sudah hendak melepas cadar untuk identifikasi tapi petugas bilang tidak usah dilepas tidak apa-apa.

Tidak ada perlakuan spesial bagi yang bercadar kalau dalam hal layanan masyarakat dan publik. Tentu karena isu ini sensitif dan kalau sampai terjadi, orang yang bersangkutan akan kehilangan pekerjaan dan mendapat kecaman.

Tapi di lingkungan sosial, terasa sekali bahwa kami memang tidak diterima.

Suami saya yang notabene berasal dari keluarga non-muslim, lahir, besar, dan warga Jerman, juga sempat dimaki-maki oleh bapak-bapak sebagai “orang yang hidup dari uang sosial” alias pengangguran ketika mas Suami keluar dengan gamis pria panjangnya.

Kisah dari beberapa teman Muslimah non WNI saya memberi kesan bahwa mereka kesulitan menemukan pekerjaan yang sesuai dengan bidang pendidikan. Tapi Allah Maha Memberi Rezeki. Meskipun mereka kesulitan bekerja, mereka nggak kesulitan hidup.

Memang selalu ada cobaan, tapi this is life!

Tinggal di Eropa bagi Muslim

Di lingkungan pekerjaan, saya cukup sering mendapatkan kisah mereka yang kesulitan untuk wudhu di area kantor, atau meninggalkan pekerjaan barang 5 menit untuk sholat. Tidak ada ijin meninggalkan jam kerja untuk sholat, jadi sholat harus dilakukan di waktu istirahat siang atau selepas kerja.

Di lingkungan sekolah, sudah muncul wacana bahwa Jerman akan melarang anak-anak usia di bawah sekian tahun untuk mengenakan jilbab. Saya lupa usia pastinya. Menurut pandangan kami yang ingin membesarkan anak-anak agar mengenal Allah dan Rasul Allah SAW, Jerman bukan pilihan pertama.

Sudah terlalu banyak kisah keluarga Muslim yang kehilangan agama mereka di dua-tiga generasi berikutnya.

Jerman memang punya usia harapan hidup tinggi, yaitu sampai 84 tahun. Semua fasilitas publik di sini benar-benar ekstra, jauh dari apa yang bisa saya dapatkan di Indonesia. Tapi untuk apa hidup lama-lama kalau kehilangan agama?

More on this topic

Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Populer

Trending Eropa, Obat Corona dari Bahan Herbal?

Echinacea Purpurea disinyalir menjadi angin segar pada penelitian obat yang dilakukan di Inggris. Dalam jurnal kesehatan, mereka menyatakan bahwa multivitamin dan obat...

Hidup di Jerman: Standar Miskin & Kaya

Hidup di Jerman tidak jauh beda kalau sudah menyangkut kebutuhan. Tapi kalau bicara soal standar, banyak perbedaan antara standar hidup di Jerman...

7 Hal Berbeda Soal Tempat Tinggal di Jerman

Tinggal di Jerman berarti harus menyesuaikan dengan sistem dan mekanisme di rumah tinggal yang jauh berbeda dengan Indonesia. Apa saja perbedaannya dengan...