7 Hal Berbeda Soal Tempat Tinggal di Jerman

Artikel Terkait

Tinggal di Jerman berarti harus menyesuaikan dengan sistem dan mekanisme di rumah tinggal yang jauh berbeda dengan Indonesia. Apa saja perbedaannya dengan Indonesia?

Apartemen
Apartemen di Jerman memiliki tatanan dan desain yang mudah dikenali dan jauh berbeda dengan Indonesia

Orang asing memang beda, apalagi soal urusan tempat tinggal.

Rumah-rumah di Indonesia punya ciri-ciri khusus, begitu pula rumah di wilayah Eropa Tengah. Arsitektur rumah di Indonesia punya desain khas yang menurut kita nyaman dan normal.

Saat masuk ke suatu rumah di Indonesia, beberapa orang asing akan tertawa, heran, terkesima, hingga penasaran. Termasuk suami saya.

Beberapa waktu lalu, saya menulis tentang pentingnya privasi bagi orang asing. Dalam membangun rumah, Jerman memiliki standar umum bahwa setiap ruangan harus bisa dibuat kedap suara sebaik mungkin.

Dinding rumah-rumah Jerman tebal karena terbuat dari beton. Pintu-pintu kamar dibuat kedap suara sedangkan jendela dibuat dari aluminum dengan kaca tebal ganda.

Tentu saja supaya suara, bau, dan segala gangguan dari luar tidak sampai masuk ke dalam ruangan.

Pun ketika menerima tamu, orang Jerman akan menutup pintu depan. Berbeda dengan Indonesia yang masih mengedepankan norma sosial.

Karena standar rumah tinggal yang begitu tinggi, tidak semua orang mampu membeli rumah. Kebanyakan orang Jerman menyewa rumah dari developer atau perorangan. Selain lebih murah, menyewa tempat tinggal menawarkan kebebasan jika sewaktu-waktu merek harus pindah kota.

1) Beda Jerman, Beda Indonesia

Warga Eropa umumnya tinggal di apartemen bersusun mulai dari 2 hingga 15 lantai. Khususnya di Jerman, apartemen menjadi solusi tempat tinggal murah di perkotaan.

Rumah tapak hanya ada di pedesaan. Hanya orang kaya yang mampu membangun rumah 2 lantai atau lebih untuk ditinggali sendiri.

Umumnya, meskipun berupa rumah tapak, lantai-lantai di atasnya akan disewakan ke keluarga lain. Kenapa?

Karena keluarga Jerman tidak punya banyak anak. Menurut statistik, rata-rata setiap keluarga Jerman hanya punya 1 anak. Tentunya mereka tidak perlu ruangan yang besar.

2) Semua Rumah Bentuknya Sama

Jerman punya standar keamanan dalam hal pembangunan rumah. Harus ada aturan yang diikuti ketika mendesain rumah. Hasilnya? Semua rumah tampak mirip satu sama lain.

Kalau kamu ingin bangun rumah dengan desain unik, maka dinas tata kota akan menguji desain tersebut dan meminta kamu untuk membayar sejumlah uang untuk uji coba.

Repot ya? Makanya hampir semua rumah di Jerman bentuknya itu-itu saja. Untuk bangunan kuno, bagian luarnya tetap dipertahankan. Tapi bagian dalamnya sudah diperbarui dan sangat modern. Tetap saja, kamu bisa mengenali rumah-rumah Jerman ketika lihat bagian dalamnya.

3)  Toilet Tamu

Beda dengan toilet di Indonesia yang letaknya di bagian dalam rumah atau bahkan paling belakang, toilet di Jerman letaknya di depan.

Ketika masuk pintu rumah atau apartemen di Jerman, kamu pasti bakal ketemu toilet tamu. Toilet ini sengaja didekatkan dengan pintu masuk karena diperuntukkan khusus untuk tamu.

Lagi-lagi karena alasan privasi, agar tamu tidak perlu masuk dalam-dalam ke bagian rumah kalau-kalau ada panggilan alam.

Toilet tamu hanya terdiri dari toilet dan wastafel. Nggak lebih. Biasanya juga dilengkapi dengan sabun tangan dan pewangi ruangan.

4) Kamar Anak

Kamar anak di Jerman ukurannya selalu lebih kecil daripada kamar orang tua. Uniknya, jika di Indonesia anak-anak tidur dengan orang tua hingga usia tertentu, anak-anak di Jerman sudah diberi kamar sendiri sejak bayi.

Mereka tidur sendiri di ruang anak dan orangtua akan memantau melalui Baby Monitor yang bisa dibawa ke bagian manapun di rumah. Baby Monitor ini tersambung langsung ke kamar anak.

Jadi, kalau anak rewel atau menangis, akan terdengar.

Kenapa anak-anak tidur sendirian?

Alasan pertama adalah keamanan. Anak tidak tidur bersama orang tua di ranjang yang sama supaya tidak tergencet.

5) Ruang Tamu dan Kamar Tidur

Dalam mencari properti di Indonesia, umumnya akan disebutkan jumlah kamar tidur. Ruang tamu sudah otomatis tersedia tanpa disebutkan.

Di Jerman, jumlah kamar akan disebutkan keseluruhan. Misalnya ada iklan apartemen atau rumah di Jerman yang menyebutkan 2 kamar, maka artinya 1 kamar tidur dan 1 ruang tamu, plus toilet dan dapur.

Jika ada teman Anda yang bilang bahwa dia tinggal di apartemen 3 kamar, maka secara implisit dia punya 2 kamar tidur, 1 kamar tamu, dapur, dan toilet.

6) Biaya Sewa Dingin dan Hangat

Sama seperti Indonesia, ada uang kontrakan dan uang untuk listrik, air, dan gas. Di Jerman, uang kontrakan saja disebut ‘Kaltmiete’ dan biya tambahan disebut ‘Nebenkosten’. Jika ditotalkan, maka namanya ‘Warmmiete’.

Semua biaya sewa-menyewa properti dibayarkan bulanan, tidak seperti rumah kontrakan di Indonesia yang bisa dibayarkan pertahun.

Kamu bakal diminta untik membayar Warmmiete setiap bulan. Lalu di akhir tahun, akan dicek berapa banyak pemakaian listrik, air, dan gas. Kalau pemakaian berlebih, kamu harus bayar lagi. Kalau pemakaian rendah, uang kamu bisa kembali.

Rajin berhemat di Jerman, ya. Supaya tetap punya uang di akhir tahun!

7) Biaya Jaminan

Ketika menyewa rumah, kamu diminta untuk menyetorkan sejumlah uang sebagai jaminan. Biayanya bervariasi antara 2 bulan sewa hingga 3 bulan sewa.

Misalnya biaya sewa apartemen Anda 1.600€, maka deposit jaminan kamu bisa sampai hingga 5.000€.

Biaya jaminan ini disebut ‘Kaution’. Fungsinya sebagai jaminan kalau Anda tidak mampu membayar hingga 3 bulan atau merusak apartemen.

Buat kamu yang belum bisa bayar jaminan, biasanya akan dapat keringanan atau bantuan kalau kamu minta.

Di Jerman, cukup sulit untuk mendapatkan tempat tinggal. Memang orang Jerman sangat pemilih. Mereka akan lihat, apakah suami-istri atau orang yang melamar apartemen orang baik-baik dan mampu bayar.

Kemungkinan mendapatkan apartemen akan lebih besar jika kamu dan pasangan bekerja. Artinya, kalian mampu bayar dalam jangka panjang.

Bagi mahasiswa, ada apartemen yang disediakan khusus untuk mereka dan bisa ditinggali ramai-ramai.

Sayangnya, memang tidak bisa memilih siapa saja yang akan tinggal bersama di apartemen tersebut. Jadi, besar kemungkinan akan ketemu dengan orang-orang dari berbagai negara.

Nah, ada yang tertarik tinggal di Jerman?

More on this topic

Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Populer

Kenapa Gaji Kamu di Jerman Kecil Banget

Seorang kawan dari Amerika Serikat pernah bertanya, kenapa gaji di Jerman kecil banget? Alasannya karena 40% gaji kamu harus dibayarkan ke pemerintah...

7 Kebiasaan Orang Jerman yang Sulit Dipahami

Setelah pindah ke Jerman, saya benar-benar tidak paham kenapa orang Jerman begitu… Jerman. Tapi tiga tahun kemudian, ternyata saya mengadopsi sendiri kebiasaan...

#NoIndonesianGirls dan Indonesia yang Minim Privasi

Gerah dengan kelakuan cewek-cewek Indonesia, Bule ramai-ramai membuat tagar #NoIndonesianGirls yang langsung populer di media sosial.